Selasa, 23 Agustus 2011 - 15:13:08 WIBKejatuhan Rezim Khadafi dan Masa Depan Libya
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Politik - Dibaca: 177 kali

Jakarta -
Dalam sepekan terakhir, pemberontak terus menyerbu kota
Tripoli, ibukota Libya. Sang diktator Muammar Khadafi pun mulai
terdesak. Inikah akhir 42 tahun rezim pemimpin tiran tersebut?
Mulai
tanggal 20 Agustus 2011, pemberontak sudah mengguncang Tripoli
sepanjang malam. Pemberontak tersebut bahkan telah mengambil alih salah
satu barak milik pasukan elite Khadafi yang dipimpin oleh salah seorang
putranya yaitu Khamis.
Secara diam-diam juga, para pemberontak
telah menyiapkan serangan ke Tripoli selama berbulan-bulan dan mulai
melancarkan serangan ke Tripoli pada beberapa hari yang lalu. Juru
bicara pemerintah, Moussa Ibrahim mengatakan ada 1.300 orang tewas
akibat pertempuran ini.
Wakil ketua pemberontak dari Dewan Transisi Nasional (NTC) Abdel Hafiz Ghoga menyebutkan batas waktu untuk Khadafi sudah habis.
"Jam nol sudah dimulai. Pemberontak di Tripoli sudah bangkit," kata Ghoga dari Benghazi.
Mantan
PM Libya, Abdel Salam Jalloud yang sehari sebelumnya membelot kepada
pemberontak muncul di televisi Al Jazeera via video internet. Dia
menyerukan semua rakyat Libya melawan sang tiran.
"Malam ini kita
menang melawan ketakutan," kata dia. Petinggi NTC, Mohammed al Allaqi,
mengatakan Jalloud sudah berada di Roma, Italia.
Pertempuran yang
akhirnya mencapai Tripoli, disambut gembira di Benghazi dan berbagai
kota. Pergerakan pemberontak ke Tripoli telah mengubah peta kekuatan
sejak mereka berhasil menguasai kota Zawiyah minggu lalu. Kota Tripoli
pun terisolasi.
Pasukan pemberontak juga sempat mengklaim sudah
menangkap tiga anak Khadafi. Mereka adalah Saif al-Islam dan Al-Saadi
serta Muhammad, putra sulung Khadafi yang dikabarkan menyerahkan dirinya
ke pihak oposisi.
Namun belakangan, Saif al-Islam muncul di
hadapan publik dari markas Khadafi di Tripoli. Sejumlah wartawan yang
ada di Tripoli, termasuk koresponden AFP, mengakui melihat sosok Saif
al-Islam berada di kompleks markas Khadafi di Tripoli.
"Saya di sini untuk membantah kebohongan," tegas Saif al-Islam merujuk pada kabar penangkapan dirinya.
Khadafi
juga tidak tinggal diam. Lewat siaran televisi pemerintah, dia
menyerukan kepada warganya untuk melawan para pemberontak di Tripoli.
"Saya
takut ketika kita tidak bertindak, mereka akan membakar Tripoli," ujar
Khadafi pada 22 Agustus lalu. "Tidak ada akan air, makanan, listrik
bahkan kebebasan," tambahnya.
Namun seruan itu tidak bertahan
lama. Sehari berselang setelah seruan perlawanan itu, Khadafi akhirnya
bersedia berunding dengan para pemberontak. Perundingan akan segera
dilaksanakan.
Menurut juru bicara pemerintah, Moussa Ibrahim,
seperti ditayangkan dalam televisi pemerintah, Khadafi kini sedang
mempersiapkan negosiasi secepatnya dengan kepala pasukan pemberontak
Dewan Transisi Nasional.
"Presiden Khadafi secepatnya mempersiapkan negosiasi dengan pemimpin pemberontak," ujar Moussa.
Dunia pun bereaksi menyikapi serangan pemberontak ini. Ada yang memberikan dukungan, sebagian juga ada yang menolak.
Negara-negara
Barat mendukung kejatuhan rezim yang lahir karena kudeta pada tahun
1969 ini. Uni Eropa dengan tegas meyakini Khadafi segera turun. Bahkan
pemimpin nyentrik ini didesak segera menyerahkan kekuasaannya.
"Kita
sepertinya sedang menyaksikan berakhirnya rezim Khadafi," kata Michael
Mann, juru bicara untuk kepala urusan luar negeri Uni Eropa Catherine
Ashton. "Khadafi harus menyerahkan kekuasaan sekarang dan menghindari
pertumpahan darah lebih jauh," imbuh Mann.
Hal yang sama
dikatakan Presiden Amerika Serikat Barack Obama. Dia menyerukan Khadafi
untuk mengundurkan diri sekarang. Menurut Obama, rezim Khadafi telah
berada di titik ujung dengan berhasilnya pasukan pemberontak menembus
jatung kota Tripoli.
Tapi Khadafi bukannya tanpa pendukung.
Presiden Venezuela Hugo Chavez memberikan simpati pada Khadafi dengan
mengecam negara-negara Barat yang telah menghancurkan Tripoli dengan
bom-bom mereka.
"Hari ini kita melihat gambar pemerintah
demokratis Eropa beserta pemerintah Amerika Serikat yang seharusnya
demokratis, menghancurkan Tripoli dengan bom-bom mereka," cetus Chavez
yang merupakan sekutu kuat pemimpin Libya, Muammar Khadafi.
Menurut Chavez, bom-bom tersebut bahkan telah mengenai sekolah-sekolah, rumah sakit, tempat kerja dan lahan-lahan pertanian.
Aksi
Chavez juga diamini Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad. Dia meminta
agresi imperialis Barat di Libya dihentikan. Aksi NATO di Libya tak
lebih dianggapnya sebagai proyek mengambil alih minyak.
Peneliti
politik Timur Tengah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Hamdan
Basyar juga memiliki analisis terkait alasan NATO membantu kaum
pemberontak. Menurut Hamdan, minyak menjadi alasan utama barat memberi
dukungan dana hingga senjata selama proses pemberontakan berlangsung.
"Jelas
minyak. Alasan Barat membantu oposisi karena minyak. Libya itu punya
minyak yang bagus. Ini kan kemarin produksinya hancur ketika perang. Itu
bukan rahasia lagi. Sebagaimana Amerika Serikat di Irak, jelas minyak,"
ujar Hamdan.
Bagaimana dengan masa depan Libya? Hamdan menilai,
kaum oposisi akan sangat berat untuk membangun kembali Libya. Sebab
selama ini, negeri kaya minyak tersebut dibangun dengan politik yang
berbeda dengan kapitalis atau sosialis.
Ada kemungkinan Libya jatuh pada perang suku/perang saudara?
"Justru
itu masalahnya, sampai belum saat ini belum ditemukan orang kuat yang
bisa dijadikan pemimpin semua kelompok. Ada kekhawatiran seperti di
Irak, kelompok-kelompok itu akan mengalami perbenturan karena mereka
sudah punya senjata. Kaum oposisi harus konsolidasi dan membangun
politiknya seperti apa, itu adalah tantangan bagi mereka," jawab Hamdan.
dikutip dari detik.com edisi 23/08/2011

- Menolak Hubungan Seks, Wanita Prancis Dibunuh Pria Malaysia
- Indonesia vs Palestina: Bambang Bawa Indonesia Unggul, 4-1
- Imigrasi Deteksi Neneng Berada di Malaysia
- Membedakan Nyeri Dada dan Serangan Jantung
- Megawati Minta SBY Koreksi Diri
Isi Komentar :




Pengunjung hari ini
Total pengunjung
Pengunjung Online 